Jumat, 13 Juli 2012

Mengubah Tampilan Bahasa di Facebook Menjadi Bahasa Jawa


1. Login ke akun Facebook dulu
2.
Copy Kode script yang terdapat di dalam kurung di bawah ini:
    [  
javascript:intl_set_locale(null,"FOOTER","jv_ID");   ]
3 .
Masuk Link ini
4. Ganti URL yang terdapat pada Address Bar dengan kode tersebut lalu tekan ENTER.

Selamat Mencoba..

Rabu, 07 Maret 2012

Galau dan Kegalauan Galauwers





Galau dan Kegalauan Galauwers

     Kenapa disini gua ngebahas tentang yang namanya galau?
Karena akhir-akhir ini gua sering liat status facebook mereka (temen-temen) tentang yang galau-galau gitu.. hmm gua banget! Hehee
Nah loh! Kok gua?
Iya.. Gua lagi terserang virus kegalauan, aneh tapi nyata virus itu menjangkit gua dan meracuni otak dan hati.. hehee lebay dehh.. tapi memang bener saat ini gua lagi galau, bahkan nulis ini pun dengan rasa kegalauan.
Eitss tunggu dulu.. Apa sih galau itu? Dari tadi gua ngomongin galau terus, dan kenapa kok bisa kena virus itu.
Mari kita kaji lebih dalam.. hehee sok iyess banget gua, padahal ga banget.. Wkwkwkwkk

  

Galau
      Galau mulai muncul dikalangan anak muda atau remaja, dan menurut gua sih kata galau mulai populer di tahun 2011. Dan jaman sekarang siapa sih yang ga pernah galau? Pasti pernah yang ngalami kegalauan. dan orang yang lagi galau biasanya menyendiri, dipojokan tuh bisa dikatakan tempat favorit para galauwers, bahkan kalo bisa ke kutup selatan kali buat menyendiri.. hehee kelewat lebay gua na sangking galaunya.
Orang-orang yang terjangkit virus galau biasanya disebut Galauwers.. (ngintip blog tetangga) hehee
Semua orang pasti pernah ngalami yang namanya galau, mulai dari..

_kegalauan percintaan
     
Nah percintaan, iyaa galau pasti sering identik dengan dunia percintaan.
mulai dari jatuh cinta atau kasmaran, pacaran, dan kalo putus cinta... hahaa
Yahh pokoknya virus  galau sering banget menjangkit orang-orang yang berkecimpung di dunia percintaan dwehh.. 

_Kegalauan keluarga
    
kok keluarga? Iya, virus galau tidak hanya identik dengan dunia percintaan, namun virus galau juga menjangkit keluarga.
misal.. bapak yang galau mikir buat bayaran anak sekolah, buat belanja besok, atau masalah di luar sana yang mungkin bisa menyebabkan kegalauan.

_kegalauan anak Kost
    
Kok anak kost sih? Iya, bukan maksud mau menyindir atau apalah, karena hal ini pernah gua alami sendiri.
Kegalauan yang dialami anak kost adalah galau belum bayar perpanjang kost-an, belum dapet kiriman.. (maaf yang ngerasa boleh ketawa kok) heheee

  

Apa Sih Galau Itu?
     Dari tadi kita ngomongin galau terus, apa sih galau itu?
kalo menurut gua sih galau itu suatu perasaan yang aneh, perasaan yang dimana kita memikirkan sesuatu yang terlalu, yang menjadi beban.
Tapi kalo menurut blog tetangga yang gua copast,
Galau adalah keadaan dimana seseorang menjadi murung secara mendadak bisa dibilang mumet banyak pikiran, yang di sebabkan karena kita banyak memikirkan sesuatu yang nggak jelas.


Obat Galau
    
Obat galau? Nah loh! Ada ga sih obat buat ngilangin galau itu?
kalo menurut gua sih keknya ga ada deh, tapi kalo sekedar mengurangi atau melupakan sejenak kegalauan tuh bisa, karena galau itu akan hilang dengan sendirinya tanpa kita sadari.. kayaknya sih! Hheee

Terus apa yang bisa ngurangi kegalauan atau melupakan sejenak kegalauan itu?

_ Mencari kesibukan yang mengasikan
 Misalkan kita ada kegiatan kampus, yang menyenangkan tentunya, itu akan sedikit membuat kegalauan kita terlupakan.
 

_Curhat
    Curhat bisa mengurangi kegalauan, meski ga bisa menghilangkan virus galau tapi dengan curhat kepada teman yang kita percayai mampu mengurangi kegalauan.
 


Pesan buat Galauwers..
     Jangan sampe galau menghambat hidup kita, membuat kita lemah, pasrah, bahkan putus asa.. Nah yang lebih parah adalah bunuh diri gara-gara mengalami galau tingkat tinggi. hehee
karena temen gua ada yang sangking galaunya pingin mati, untungnya ga jadi mati beneran. jangan sampek yah! (maaf yang ngerasa.. hehee )
Kalau kita mau berfikir pasti semua masalah ada jalan keluarnya kok, yang penting kita harus tetep optimis..
Tetep semangat yah kawan..


Senin, 13 Februari 2012

Andaikan


Andaikan takdir mampu menyatukan semua
Menyatukan dua insan yang berbeda
Menyatukan dua hati yang sedang terluka
Menyatukan diriku dan dirimu

Aku tahu Kau tak akan pernah mengerti
Karena Kau tak pernah ingin mengerti

Apakah Aku ada dihatimu?
Apakah Kau pernah merindukan Aku?
Pernahkah Kau sebut namaku dalam setiap doamu?

Bagaimanapun Kau tak akan pernah terlupa
Karena Aku tak akan perna mencoba

Terkadang dalam kesendirian malam terbesit sebuah pertanyaan
Seakan selalu memaksaku untuk memilih sebuah pilihan
Haruskan Aku disini dalam kegelapan, menunggumu datang membawa cahaya terang?
Haruskah Aku mengikuti cahaya pelangi, melangkah jauh untuk menemukanmu?

Semoga saja Tuhan memberikan jawaban
Agar waktu yang berlalu terasa indah bersamamu
Karena Aku ingin Kau selalu disisiku

Senin, 30 Januari 2012

Lupakan Saja Dia




Hai Bidadariku..

Sadarilah bahwa untuk beberapa saat engkau akan berlaku agak aneh, yaitu merasa bahwa engkau hanya sendiri di dalam hidup ini, dan bahwa dunia ini kosong dari apa pun yang bisa menggembirakanmu.

Cobalah ingat, betapa cerianya engkau dulu sebelum dia datang dan membuatmu jatuh cinta kepadanya?

Bukankah engkau dulu mampu untuk hidup mandiri dan bebas untuk bergembira di mana pun dan dengan siapa pun?

Apakah dia demikian hebatnya, sampai-sampai engkau berlaku menistakan nikmat Tuhan yang amat sangat luas ini?

Jangan sampai engkau ditanya:

... nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau nistakan?

Jangan sampai engkau tidak mendapatkan yang tidak baik bagimu sekarang, dan membatalkan kepantasanmu untuk mendapatkan belahan jiwa yang sesuai bagimu jika engkau berbaik sikap?

Apakah sesungguhnya engkau sedang menistakan rencana Tuhan bagi jiwa yang lebih baik, karena engkau tak kunjung membijak kehilangan yang tidak baik?

... nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau nistakan?

Sudahlah. Lupakanlah dia.

Dulu engkau berbahagia tidak mengenalnya, dan engkau bisa tetap berbahagia setelah pernah mengenalnya.

Perlakukanlah dia sebagai yang pernah kau cintai, seperti keikhlasanmu menerima semua kehilanganmu selama ini.

Pantaskanlah dirimu bagi belahan jiwa yang lebih baik.

Sesungguhnya,

Keindahan yang kau dapat, sesuai dengan keindahan yang kau upayakan.

Jumat, 27 Januari 2012

Cinta Pertamaku Itu Kamu

Orang yang mencintai Kamu tidak pernah bisa memberikan alasan kenapa Dia mencintai Kamu, yang Dia tahu dimatanya hanya ada Kamu satu-satunya.

Orang yang mencintaimu selalu menerima kamu apa adanya, dimatanya kamu selalu yang tercantik/tertampan dan paling baik walaupun kamu merasakan dirimu biasa saja.

Dan jika kamu menghindarinya atau memberi reaksi penolakan,  Dia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupanmu walaupun hal itu membunuh hatinya. Karena yang Dia inginkan hanyalah kebahagiaanmu.

Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan, Dia akan ada disana menunggumu karena Dia tak pernah mencari orang lain.




























Dia selalu menunggumu... Dia selalu ada untukmu...



Minggu, 20 November 2011

Bidadari tak bersayap



Betapa merdu tatapan wajah indahmu
Mengalunkan damai saat menatapmu
Membisikan rasa yang tak biasa
Segarkan jiwa yang dulu selalu kudamba

Keanggunan dalam diam
Diam yang begitu menawan
Kebisuan penuh nada tanda tanya
Seakan memaksaku mengungkap semua

Kau mampu hadirkan terang dalam gelap malam
Kau mampu likiskan indah dalam bayangan

Sosok bidadari
Bidadari tak bersayap yang hadir di bumi
Meski tak bersayap, namun kau mampu terbangkan aku
Terbang jauh kealam yang sulit kuceritakan padamu

Kadang rindu
Kadang cemburu
Kadang juga benci
Selalu saja sulit kumengerti dan kumengerti

Tetaplah kau menjadi bidadari tak bersayap
Dan tetaplah kau di bumi
Agar suatu hari nanti kau bisa kumiliki

Fredi Febriyono
Bandar Lampung, 20 November 2011



Rabu, 16 November 2011

Teman lebih baik daripada Cinta


Cerpen remaja




Judul: Teman Lebih Baik Daripada Cinta
Pengarang: Fredi Febriyono

Kulalui hari-hari kuliahku dengan penuh semangat dan terasa begitu indah sekali, dan rasanya tak ingin semua itu berlalu. Karena aku punya banyak teman baru, jadi itulah yang membuatku semangat kuliah. Setiap kuliah, disela waktu luang kami sering bercanda, ngobrol kesana-kemari, pokoknya menyenangkan sekali. Kami terdiri dari empat kawanan, yaitu Aku, Deni, Ani, dan Rina. Padahal kita baru kenal kurang dari dua minggu, karena kami satu kelas jadi kami cepat akrab. Meskipun kita sering bergerombol kesana-kemari, namun kita bukanlah geng. Tidak seperti kebanyakan gerombolan orang-orang yang sering kita lihat di kampus.  

Kita memang terkenal asik dikalangan teman sekelas, namun terkecuali dengan Rina. Dia lebih sering diam. Rina memang baik, namun sedikit aneh dimataku, namun aku tidak terlalu memperdulikan. Tapi disisi lain, Rina sangat baik, perhatian, terutama kepadaku. Karena aku seorang cowo, jadi aku seneng-seneng saja diperhatikan begitu.

Hari ini adalah hari senin, hari pertama dalam hitungan mingguan. Aku berangkat kuliah dengan berjalan kaki, karena memang tempat aku ngekost dekat dengan kampus, jadi aku selalu berjalan.

Kutapaki jalan sendiri, langkah demi langkah aku lalui dengan semangat. Dikesendirian yang ditemani asap kendaraan kota yang memuakan sekali, dan sangat mengganggu, tapi Aku tetap semangat melangkahkan kaki menuju kampus.

Sesampainya di kampus, aku melihat Ani dan Rina yang sedang duduk di bangku depan perpustakaan. Kulihat mereka sedang membaca buku, tapi tidak tahu persis itu buku apa, dan buku itu dipegang oleh Rina. Kemudian Aku berjalan dan menghampiri mereka berdua.

“Hey,, udah dateng toh?” tanyaku.

“Iya dong!” jawab mereka secara bersamaan.

“Eh.. baca apa sih lo?” tanyaku kembali.

“Oh.. ini novel tentang cinta” jawab Rina.

“Yaelahh lo bukannya belajar, malah baca buku kek gitu”

“biarin!!” sentak Rina.

Disela ngobrol, Deni datang dengan mengendarai motor ninja RR. Diantara kita berempat  hanya Deni yang punya motor, lainnya ngekost. Deni sempat melambaikan tangan dan langsung memarkirkan motornya. Kemudian budi menghampiri kami bertiga.

“hey.. udah lama tah lo datengnya?” tanya Deni.

“Lumayan lah” jawab Ani dan Rina.

“kalo gua barusan” sahutku.

“Udah ah, masuk yuk!!” ajak Deni.

Kita langsung menuju ke lantai dua, dimana ada ruangan mata kuliah bahasa indonesia. Kulangkahkan kaki penuh semangat, anak tangga satu demi satu kulalui, dan sampailah kita. Namun disana suasana masih sepi, dan dosen belum datang. Akhirnya kita menunggu sambil duduk lesehan di pinggir tembok. Disana kita ngobrol tentang novel yang Ani dan Rina baca tadi, yang mengisahkan tentang cinta seorang gadis desa. Disela bincang-bincang tersebut, terceplos dari mulut ani..

“Eh.. Lo pada udah punya pacar belum?” tanya Ani.

“Haha.. ga ada gua” jawab Rina.

“Ada deh..” jawab Deni.

Disitu aku sempat diam dan berpikir, karena aku memang belum pernah pacaran, jadi pasti tidak punya pacar.

Tiba-tiba ani menyentak sembari menepuk bahuku, yang membuatku kaget, seperti tersambar petir di siang bolong.

“Hey.. gimana lo?” tanya si Ani.

“E..eenggak” sahutku dengan gugup.

“Enggak apaan?”

“Yaa enggak punya lah..”

Karena aku tahu kalau Rina tidak punya pacar, aku berniat untuk mendekatinya. Karena dia memang pehatian kepadaku, yang membuatku semakin percaya diri. Tapi aku juga masih sedikit ragu, perhatiannya kepadaku hanyalah sebatas teman atau ada hal yang lain. Tapi aku tidak gegabah, aku harus pelan-pelan.

“Eh.. mana nih dosen, kok belum dateng?” cetus Ani.

“Iya ya, kok belum dateng” sahut Rina.

“Paling juga ga dateng” ujarku dengan sedikit tertawa.

Tidak lama kemudian datang seseorang dari bagian Baku, dan memberitahukan kalau bu Mirna (dosen bahasa indonesia) tidak masuk karena sakit.

“Huu...” sorak seluruh teman yang juga sudah menunggu.

Kemudian semua bubar dan pergi masing-masing, dan tidak terkecuali kita juga. Kita pergi dan keluar dari gedung menuju taman kampus. Disana kita duduk dibawah pohon yang rindang, sehingga terasa begitu sangat nyaman sekali. Ditemani hembusan angin yang sejuk, membuat kita semakin betah.

Hari ini mata kuliah Cuma ada satu, yaitu bahasa indonesia saja. Jadi jika bahasa indonesia kosong, maka hari ini kita tidak belajar.
Disitu aku mulai mencoba pendekatan dan memperhatikanya, karena selama ini dia yang perhatian kepadaku.

“Eh.. ada tugas matematika ngga?” tanyaku kepada Rina sekedar basa-basi, padahal sebenarnya aku sudah tahu kalau memang ada tugas.

“Ada lah..” jawab Rina.

“Emang lo udah tah?”

“Belum, kalo lo?”

“Haa.. gua juga belum”

“Eh.. entar kita kerjain bareng ya?!” Tukasnya.

“Boleh deh” jawabku dengan senang hati.

“Wahh.. kesempatan buat bisa lebih deket neh” Pikirku dalam hati.

Kemudian budi pamit mau pergi, katanya sih mau ke tempat temannya. Dan tinggallah kami bertiga. Karena aku merasa tidak enak, dan suasana sudah tidak mengasikkan, aku mengajak mereka pulang.

“Pulang yuk!!” ajakku kepada Rina dan Ani.

“Iya pulang aja yuk” terus Ani.

“Ya ayo deh” tukas Rina.

Kita langsung bergegas pulang, sampai di gerbang kita berpisah, aku kearah kanan sedangkan Ani dan Rina kearah kiri.

“Hati-hati ya Rin” seruku.

“Ih.. kok Cuma Rina, gua nggak nih?” sahut Ani.

“Eh iya, maksudnya hati-hati semua”

“Nah gitu dong”

Kulihat rina tertawa ringan mendengar ucapan ani. Kemudian kulangkahkan kaki, namun terasa agak berat, mungkin karena harus berpisah dengan Rani. Aku sempat menoleh ke arah mereka, namun kulihat mereka sedang asik memperhatikan jalan dan mereka berlalu.


Malam hari disaat Aku hendak memejamkan mata untuk tidur, Aku tidak bisa tidur, padahal mata sudah terasa kantuk sekali. Setiap kucoba memejamkan mata, selalu terbayang wajah Rina, senyumnya, dan semua tentang dia. Seakan bayang indahnya meracuni pikiranku, sehingga sulit untuk tidur.

Detik demi detik, menit demi menit berlalu hingga larut malam. Kulihat jam yang memempel di dinding menunjukan pukul 23:49. Aku berusaha untuk melupakan bayangnya dan mencoba tidur. Dan tidak lama kemudian aku tidur pulas. Kulalui malam dengan sangat nyenyak dan tidak sekalipun terjaga.

Keesokan harinya, aku bangun sangat pagi. Kulihat jam menunjukan pukul 05:30,  dan aku beranjak bangun dari tempat tidur dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai wudhu aku kembali ke kamar lagi dan solat. Setelah selesai solat, aku berdiri depan jendela. Perlahan kusibakan tirai, kemudian kubuka jendela. Kuhirup udara dalam-dalam, lalu kulepas secara perlahan.

“Hemm.. segar..” Ucapku.

Cukup lama aku menikmati udara pagi itu, udara yang sangat sejuk, hingga terasa sampai kehati. Cukup kuakhiri, dan Aku langsung pergi sembari menyambar handuk untuk mandi. Setelah selesai, Aku langsung kembali kekamar untuk ganti pakaian dan mempersiapkan buku. Tidak butuh waktu lama, semua beres. Tanpa pikir panjang, Aku langsung berangkat dengan jalan kaki. Berjalan adalah hal biasa yang sering Aku lakukan, namun hari ini berbeda, terassa sangat ringan dan lebih semangat. Tidak lama Aku berjalan, sampilah aku di kampus.

“Gila.. sepi amat!!” ujarku.

Ternyata aku brangkat kuliah hari ini kepagian, mungkin karena terlalu semangat. Disana aku hanya melihat segelintir orang saja, dan tidak ada salah satu dari temanku. Aku menunggu mereka dengan duduk di depan perpustakaan. Lumayan cukup lama aku menunggu, kulihat sosok Ani dan Rina datang.

“Eh.. tumben lo dah dateng?” tanya Ani padaku.

“Hehe.. iya, gue kepagian tadi” jawabku dengan sedikit tertawa.

“Nyesel gitu?” tanya Rina.

“Ih, ya enggak lah!!” jawabku dengan lantang.

Dan kemudian Deni datang dengan mengendarai motornya, dia memarkirkan motornya lalu menghampiri kami bertiga. Disitu kita asik ngobrol, ya sekedar ngisi waktu luang. Namun kurasakan ada sesuatu yang berbeda, Rina tidak lagi perhatian denganku, tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Saat itu Aku ingin buang air kecil, dan Aku ajak Deni. Saat di toilet Aku sempat bertanya pada Deni, tentang kalo aku suka kepada Rina.

“Den, beneran ga ya Rina itu belum punya pacar?” tanyaku.

“Ga tau dah, tanya aja ma orangnya” jawab Deni.

“Ah lo, tapi gimana kalo gua suka ma Rina?” tanyaku.

Deni sempat diam, dan aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Dan sepetinya Deni agak bingung, yang kulihat dari raut wajahnya.

“Eh.. gimana?” tanyaku kembali.

“Ga tau dah, ayo pergi” tukas Deni sambil menarik tanganku keluar dari kamar mandi.

Kemudian kami berdua kembali menuju ke Ani dan Rina. Baru saja Aku dan Deni datang, Rina mengajak pergi ke kelas sembari menarik tangan Deni. Aku tidak merasa heran dengan hal tersebut, karena sudah biasa. Tapi yang aneh, mereka seperti asik sendiri dan tidak menengok kepadaku maupun Ani. Aku berjalan agak santai, namun Rina dan Deni lebih cepat. Dengan tidak sadar, mereka meninggalkan Aku dan Ani yang ada dibelakang. Dan yang kulihat mereka berlalu.

“Eh An, kok mereka gitu sih?” ucapku.

“Ga tau deh” tukas Ani.

“Kenapa dan ada apa sih sebenernya?” tanyaku sedikit memaksa.

“Ga ada apa-apa, ayo lah..” jawab Ani sembari menarik keras tanganku.

Dan kami berdua cepat-cepat menuju ke kelas. Sampai disana kulihat Deni dan Rina duduk di pojok sembari bercanda ria.

“Eh gimana sih lo, jalan lelet amat?” ujar Deni.

“Yee lo yang jalannya cepet-cepet” sahut Ani.

“Ha iya tah?” tukas Rani.

“Yee.. ga nyadar lo ini?” cetus Ani sambil menonyor rina.

“Huu... “ tambahku.

“Iya maaf deh” ucap rani.

Kemudian dosen datang, dan langsung memulai mata kuliah. Aku belajar dengan serius, dan tanpa menghiraukan tingkah laku Rani dan Deni.

Setelah 90 menit kuliah berlangsung, akhirnya selesai juga. Kita keluar bersama dari ruangan, tapi aku merasa aneh dengan sikap Rani dan Deni. Akupun merasa risih dengan keanehan tersebut.

“Eh mau pulang langsung nih?” tanyaku kepada mereka.

“Basing gue mah” jawab Deni.

“Balik aja deh” sahut Rani.

“Kalo lo An, maunya kek mana?” tanyaku kepada Ani.

“Gua mah ngikut aja” jawab Ani dengan lantang.

Kemudian aku mencari alasan agar bisa bicara dengan Ani, dan aku beralasan akan pergi ke perpustakaan.

“Oh iya, gue ke perpus dulu ya?!” ujarku.

“yaudah sana gih” sahut Deni.

“Eh temenin gua yuk An” ajakku kepada Ani.

“Males ah” Jawab Ani.

“Udah ayo” kutarik tangan Ani sedikit memaksa.

Kami berdua pergi meninggalkan Rina dan Deni. Aku tidak benar-benar ke perpustakaan, melainkan aku pargi ke lorong laboratorium. Disana aku bicara empat mata, tanpa orang lain yang tahu.

“An, lo kan temen gua, gua mau tanya ya?!” ujarku.

“Ihh apaan seh? Tanya tigggal tanya kok kesini segala”

“Tapi lo harus jujur loh”

“Iya iya”

“sebenernya ada apa sih dengan mereka, Rina dan Deni?” tanyaku dengan serius.

“Emang ada apa?” Ani balik tanya kepadaku.

“Lo jujur deh, pasti lo dah tau semuanya kan?, lo harus jujur kalo lo masih nganggep gue ini temen” kucoba yakinkan Ani.

Kulihat raut wajah Ani pucat, dan seperti orang kebingungan. Tapi dia diam seribu bahasa, yang tak mampu aku terka.

“Ayo dong!” tambahku.

“Sebenernya ini rahasia, gue tau bukan dari Rina sendiri, tapi dari sms yang gue baca di hapenya” tukasnya dengan berat.

“Iya tau apa?” tanyaku dengan kebingungan.

“mereka jadian fred” ujarnya dengan memalingkan muka.

“Maksud lo pacaran?” tanyaku lagi untuk memperjelas.

“Iya”

GLEEGARRR!! Seketika itu badanku terasa tersambar petir di siang bolong, dan terasa lemas sekali, hingga aku tidak bisa menggerakan badan.

Ternyata itu yang membuat mereka (Rina dan Deni) menjadi lain dari hari sebelumnya. Mereka menjadi sangat aneh dan asik dengan urusan mereka sendiri. Dan ternyata seorang yang aku dambakan dan aku cintai sudah menjadi pacar teman dekatku sendiri.

Kulihat Ani terdiam dan menatapku penuh kasihan, karena dia tahu kalau Aku suka pada Rina. Kemudian aku pergi meninggalkan Ani sendiri, yang kulihat masih saja terdiam.

Kemudian Aku memutuskan untuk pulang, Aku sudah tidak menghiraukan Ani, maupun Rani dan Deni yang masih didepan perpustakaan. Diperjalanan pulang, hatiku terasa sakit dan pilu dan terkadang tubuhku terasa sangat lemas sekali. Dan aku larut dalam kesedihan yang memuakan menyelimuti hati di dalam perjalanan pulang.

Malam hari adalah malam penyiksaan bagiku, aku sungguh merana. Setiap saat akan memejamkan mata untuk tidur, selalu terbayang Rani yang membuat hatiku sakit. Kepiluan ini berlarut, hingga membuatku tidak bisa tidur sama sekali. Dulu bayang Rani selalu indah menemani, namun sekarang tidak, bayangan indah Rani berubah menjadi racun yang menggerogoti hati.

 Kulihat jam dinding berbunyi, dan waktu menunjukan pukul 00:00 tepat. Aku tidak bisa tidur meski kurasakan kantuk yang teramat sangat, hingga mataku merah.

“Iyakah aku harus begini?, haruskah aku terluka?, haruskan aku jadi pecundang?, apakah aku terlalu pengecut?”
“apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku tetap jalani hari-hariku seperti biasa? Tapi bagaimana jika hatiku semakin terluka? apakah aku harus menjauh? Tapi bukankah sama saja aku ini pecundang?”

Sejuta pertanyaan menghujam membabibuta, membuat aku merasakan sakit kepala. Namun aku tidak mau menjadi seorang pecundang, aku harus bisa terima. Dimalam yang sulit itu aku putuskan, besok aku akan mengucapkan selamat kepada mereka. Dan aku akan tetap tegar dan semangat jalani hari-hariku, meski gadis pujaan hatiku telah menjadi milik orang lain.

Setelah menjalani malam yang sulit, akhirnya aku bisa tidur juga. Aku tidur sangat pulas, dan tanpa perrnah terjaga hingga mentari pagi menyambutku.

*********

Hari baru telah menyambutku, dan ditemani dengan senyum mentari pagi. Namun hari ini aku bangun kesiangan, kulihat jam  dinding menunjukan pukul 07:10.

“Alamak!! terlambat nih” pikirku dalam hati.

Aku langsung sambar handuk sambil terburu-buru dan menuju kamar mandi, akupun mandi cepat sekali. Setelah kukenakan pakaian lengkap, Aku langsung berangkat. Aku percepat langkah kaki, dan sampailah Aku dikampus. Aku langsung menuju ke kelas, dan ternyata benar dugaanku, Aku terlambat. Kulihat dosen sudah memulai mata kuliah.

“Tok tok tok!!” kuketuk pintu.

“Pemisi bu,,” izinku.

“Kenapa kamu terlambat” tanya dosen kepadaku dengan wajah menakutkan.

“Sssaya kesiangan bu” jawabku sedikit gugup.

“Sudah, keluar saja kamu!! Kamu tidak ibu izinkan mengikuti mata kuliah, karena kamu sudah terlambat 15 menit” seru dosen dengan nada keras.

Akupun perlahan keluar dengan menundukan kepala tanpa sedikitpun berkata. Aku memang menyadari kesalahanku, Aku yang salah sudah tarlambat. Aku keluar dan duduk di dinding dekat pintu, supaya aku bisa mendengarkan saat dosen berbicara.

Setelah lumayan lama, pelajaran telah usai. Aku langsung berdiri, dan kulihat dosen keluar kelas.

“Bu..” sapaku.

“Iya” jawab dosen dan berlalu.

Kemudian temanku keluar dan menghampiriku.

“Eh napa lo bisa sampe terlambat gitu?” tanya Deni kepadaku.

“Iya nih” tambah Rani.

“Oh ga kok, gua bangun kesiangan. Jawabku.

Kulihat Ani diam, tidak bicara sepatah katapun. Mungkin dia tahu perasaanku yang sedang terluka dan hancur. Dan Aku bisa mengerti dari raut wajah Ani.

“Udah ah, ke taman aja yuk!” ajakku kepada mereka.

“Ayo deh” sahut Rani.

Kita pergi ketaman kampus, seperti biasa kita nongkrong di bawah pohon. Disana Aku mulai bingung, haruskah Aku ucapkan selamat kepada Deni dan Rina. Berlahan tapi pasti ku kumpulkan semua keberanianku dan mulailah berkata.

“Teman, gue mo ngomong nih!” ucapku.

“Mo ngomong apa si lo?” tanya Deni.

“Selamat ya buat Deni dan Rina yang udah jadian” ujarku sembari menjabat tangan Deni.

“Eh.. lo kok tahu?” tanya Rina kepadaku dengan sedikit gugup.

“Lo kok, kok tahu kalo gua jadian?” tambah Deni.

“Udah ga perlu lo tau gue tau dari mana, gua Cuma bisa bahagia ngeliat lo bahagia”. Ujarku.

Kulihat Ani diam terpaku dengan mimik wajah yang sedikit kasihan. Atau apalah, aku tidak tahu pasti apa yang Ani pikirkan.

“Maaf teman, bukan maksud gue hianati pertemanan kita, tapi gue ga bisa bohongi perasaan” ujar Deni.

“Iya gue ngerti kok” jawabku dengan tersenyum.

Disaat itu Deni langsung memeluk tubuhku, dan kemudian Rani dan Ani. Disaat itu kita berjanji akan tetap menjadi sahabat selamanya.

Aku berkata pada diriku sendiri, “tidak akan ada namanya cinta, apalagi kepada teman sendiri”.

Setelah itu hari-hari kulalui lebih semangat lagi, dan kita lebih akrab lagi.

“memang cita tidaklah harus memiliki, tetapi kita harus bisa bahagia melihat pujaan hati kita bahagia bersama orang lain”

BANDAR LAMPUNG, 21 AGUSTUS 2011-08-21